Jumat, 26 Februari 2010

Kesing



siapa kamu???, jika ada yang bertanya hal demikian, saya akan menjawab.. "Ikhsan Peryoga, guru sejarah"... tapi seperti pendapat hampir 100% orang yang mengenal sayah, pasti beranggapan, berkomentar, masa guru gondrong, masa guru gini, masa guru pakaian nya tidak rapi, yabada, yabada, yabada yabadaaa... mungkin saya bukan guru tela dan bahkan banyak yang bilang sayah adalah guru yang tidak baik....

ceritanya (ini ilustrasi, kalo cerita asli mah takut di tungtut/di bawa ke pengadilan gara-gara curhat menjelek-jelekan sesuatu di Pesbuk) saya mengajar pada suatu hari. ternyata ada yang berbeda di dalam kelas... ada seorang siswi dengan rambut barunya, rambut barunya yang menurut saya tetap keren, tapi menurut orang selain saya bilangnya aneh...
deskripsi model rambut (Ikhsan Peryoga juga sebenernya hairstailis juga loh, asli... besik orang garut sih), bagian depan poni zig-zag pendek yang makin ke samping (ke arah telinga) makin panjang... ini yang kata orang aneh, di bagian belakang dan atas rambut siswi tersebut sangat pendek, bahkan bisa di bilang cepak, walau tetep zigzag... kalo masih bingung mah, gaya rambut ini pernah di populerkan agnesh monica... keanehan yang kedua ternyata dibagian belakang rada atasnya ada seperti bekas bacokan... yang setelah diteliti oleh sayah secara seksama ternyata itu bekas potongan gunting razia rambut di sekolah yang dengan jelas terlihat....

setelah tau dia ganti model rambut menjadi sangat keren/aneh itu ternyata dikarenakan menyesuaikan diri dengan bekas guntingan yang “menggurat” (bahasa spanyol) jelas yang saya kira bekas bacokan, saya merasa miris (loh, ko??)... lalu saya melanjutkan pertanyaan kepada si siswi, "kenapa kamu di razia, kamu kan bukan laki-laki???", si siswi menjawab dengan mata tidak menatap saya dan terkesan males... "karena potongan rambut saya sebelum rambut saya begini menurut guru-guru aneh pak, dan takutnya siswi2 yang lain ngikutin"... saya memasuki suasana kemirisan yang 1000kali lipat lebih dalam dari pada sebelumnya (kaya romi rafael)... dina hate (hati) si sayah: "beuh lainan ieu tambah aneh, bagusan nu kamari di zigzag jiga hajaruku-hajaruku kitu lah...artinya: bukankah ini lebih aneh, lebih bagus yang kemaren, di zigzag kaya harajuku-harajuku gitu lah.. (si yoga emang menciri'i si murid siswi itu karna potongan rambut sebelumnya emang lebih keren... si yoga juga sempet berjanji kalo rambut si yoga sudah panjang lagi mau niru'in gaya rambut siswi tersebut. Sebelum rambutnya di razia... emang keren banget (ini asli yoga pernah berjanji hal demikian))...

perasaan si sayah selanjutnya sebagai guru yang bodoh dan tidak baik jadi pengen ketawa2... razia rambut yang di terima oleh si siswi tersebut niat awal atau tujuan awalnya adalah agar si siswi bergaya rambut tidak aneh, tapi setelah di razia karena harus menyesuaikan dengan bekas guntingan razia, rambutnya jadi tambah aneh (baca: KEREEEENNN)... 

si sayah merasa miris lagi lagi dan lagi... ternyata di dunia ini ada razia rambut buat murid cewe, emang ada standarnya gitu rambut yang aneh, atau rambut yang tidak sopan buat siswi cewe??? atau itu hanya fenomena kesubjektifitasan antara individu dan individu lain... (ih waw ,sosiologi pisan bahasana)...

siapa yang salah sih dalam kasus ini??? mohon di komentarin di bawah
kenapa sih anak sekolah nga boleh gonrong rambutnya??

nga boleh gonrong!!! sampai detik ini hal itu menjadi pertanyaan besar dalam hidup sayah...
banyak yang bilang nga sopan, kita pake standar sopan dari mana??? di negara kita???... kita balik lagi lah ke tujuan pendidikan nasional di UU, atau dalam peraturan mentri pendidikan nasional no 22,23,24 tahun 2006 di bagian standar kompetensi lulusan satuan pendidikan (SKL-SP)...

memang ada poin yang menyebutkan tentang harus berpartisipasi kepada aturan2 sosial yang berlaku... kalo rambut gonrong tersebut sudah menjadi aturan sosial itu boleh, tapi masalahnya kan belum, nga ada aturannya di masyarakat tent rambut gonrong itu dilarang...RW di saya juga rambutnya gonrong??? 

kalo semua yang gonrong n berambut aneh itu penjahat,atau ada aturan agama yang menyebutkan di kitab sucinya yang berambut gonrong itu masuk neraka, itu saya setuju nga boleh anak sekolah rambut gonrong n aneh, tapi masalahnya, Muhamad juga panjang rambutnya... yang korupsi juga rata2 rambutnya rapi n pendek??? emang penilaian orang dinilai dari rambut gitu???

penilaian saya sebagai orang bodoh tentang kasus diatas... pendidikan kita dengan budaya seragamnya merupakan warisan pendudukan jepang di Indonesia tahun 1942-1945 dengan tujuan penyamarataan, menyembunyikan kesenjangan social, kebersamaan, kekompakan (hingga selalu ada pertengkaran antara murid di kelas, sebuah sindiran terhadap sistem) dan yabada-yabada (mahasiswa sejarah ngomong sejarah, capruk, jangan di dengarkan)... warisan itu ditamam dan mengakar kuat ke di dunia pendidikan di negri ini sampai sekarang... yang membuat mereka berpandangan “mener” ketika mendidik murid2nya... sampai2 rambut gondrong pun di larang buat siswa laki-laki dan penemuan terbaru sayah bahwa potongan rambut aneh pun di larang buat siswi perempuan (ada nga yah UU pendidikan tentang aturan rambut gonrong n potongan rambut aneh???soalnya bingung standar "rambut aneh" tuh seperti apa???)

kesing memang membuat indah, tetapi memperbaiki sesuatu yang sifatnya kesing tidak merubah sesuatu yang sifatnya dasar dan inti itu sangat tidak baik hey. Oke, murid-murid jadi berkesing yang kata para guru sekarang disebut rapih. jadi ga gonrong, bajunya ga ngetat, celana nya ga cangcuter/ ga emo dan lain-lain nyah-nyah yang kalau kata murid-muridnya disebut pakaian culun. Tetapi hal itu apakah menyelesaikan masalah dalam ranggka membentuk karakter murid-murid kita seperti apa-apa yang tertuang di UU pendidikan?? Tetep aja terlibat gangster, suka minum (itu tentu, kalau ga minum mah dehidrasi hey), minum-minum maksudnya, suka ngobat, suka ngebreh, dan yang lain-lain nyah. Itu karena yang mereka ngerti hanyalah berpakaian rapih dan berpakaian rapih juga karena kalau tidak rapih dimarahin, bukan karena mereka sadar. Sementara yang bahaya-bahaya itu menjadi mereka tidak mengerti karena dasarnya ang tidak ditekankan dengan kuat.

“Maafkan saya, saya bahkan tak pantas untuk di sebut sebagai calon guru”

tulisan ini sangat berbahaya, bisa-bisa saya seperti mbak Prita di jebloskan ke penjara…
saat pendidikan tak harus formal
Ikhsan Peryoga 2 April 2009
Description: Kesing Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: Kesing

judulnya apa yah??? susah!!



Oleh: Ikhsan Peryoga


ini informasi hey, saat ini saya ada di kamar saya. berantakan dan takaruan tentu saja. saya dapati tubuh saya sedang dalam keadaan duduk sila. dan tahukah wahay tukang bajigur?, duduk sila itu sebenarnya dia menyamar, menyamar jadi lambang negara kita yaitu panca-sila (pidi baiq influns). hari ini hari jumat, yang katanya di suatu jumat adalah dimana adanya nanti kiamat terjadi, walohualambisawab.

hari ini saya banyak bertemu dengan kenalan-kenalan satu angkatan sejarah sebagai sebuah tempat kuliah -bukan sejarah sebagai sebuah ilmu-. mereka saya sebut teman, bukan teman-temanan, karena teman-temanan berkesan itu sesuatu yang bohong-gohongan. kita bertemu di jurusan. jurusan sejarah tentu, bukan jurusan bahasa jerman. 

tadi siang saya ketemu dengan Eris, Silvi, Widia, mereka sudah sidang sedang menunggu wisuda, menunggu di betulkan toganya oleh pak rektor lalu difoto bersama, menunggu orang tuanya datang ke UPI gaya-gayaan, rombong-rombongan, berbonong-bonong hingga UPI semacam GASIBU. dan sekarang mereka lagi sedang duduk di jurusan membawa skripsi mereka masing-masing, berwarna orange, bertebal-tebal, berberat-berat, tapi tetap gaya hey, itu mereka dapat dari berjuang, dari proses panjang yang akan pendek ceritakan di bawah oleh saya. 

saya lihat-lihat skripsi mereka, bukan isinya tentu, takut saya nanti terinspirasi dari mereka, tapi ucapan terimakasihnya. saya baca dengan teliti dari awal tidak sampai akhir karena malas. oh ya ampun, saya kaget ini asli bukan ini tipu, saya baru nyadar bahwa orang yang paling baik se jurusan itu adalah kepala jurusan. karena kebaikan kepala jurusan, maka setiap mahasiswa menyebutkan "terimakasih sebesar-besarnya" kepada beliau, kepala jurusan dalam ucapan terimakasih di skripsinyah-nyah masing-masing. masing-masing ada sekitar 5 rangkap di print itu si sekripsi, belum lagi CD yang harus ada beberapa. dari setiap mahasiswa saja sudah lebih dari 8 rangkap skripsi berucapkan "rasa terimakasih". kali kan saja 60 orang per satu angkatan dengan 8 buah skripsi per orangnya, bayangkan itu, saya yakin itu ladang yang luas untuk pahala yang di dapatkan kepala jurusan. maka beruntunglah beliau tidak saya. dan semoga semua ketua jurusan di seantero dunia dimulyakan Tuhan, dan sayapun bilang "amin, yarobal alamin" kepada mereka.

oh lihat itu ketika tadi rada sebelumnya, ada orang yang di kasih nama Yunita Puryani oleh ayahnya, panggil saja Uni. "ada gerangan apakah dikau ke jurusan??" saya bertanya seperti itu kepada Uni. Uni tidak menjawab, oh ternyata Uni tidak mendengar pertanyaan saya yang saya ucapkan dalam hati. saya tau akhir-akhir ini bahwa uni ke jurusan mau menanyakan tentang persiapan sidang. Uni sebentar lagi sidang dan akan meninggalkan dunia. meninggalkan dunia kuliah S-1 maksud saya. tapi uni saya benar dan kamu tidak, jangan marah seperti junior saya yang marah karena note saya, saya benar prihal kamu akan meninggalkan dunia pada akhirnya, seperti juga saya. Uni sudah mau sidang, kasihan Uni sidang, seperti minta sebuah keadilan kepada jurusan, seolah selama di kuliah dia banyak kasus yang mengharuskan Uni di sidang. mula-mulanya saya mau bertanya kepada Uni tentang apakah kasus yang akan dipersidangkan perdata atau pidana, tapi tidak jadi saya tanyakan karena itu tidak penting, sangat tentu saja. semoga kamu sidang dan nanti ke jurusan lagi meniru Eris, Widia dan Silvi yang akan mengumpulkan skripsi kalian untuk dijadikan arsip di Jurusan.

oh lihat juga hey, ada Arif Rifki orang Majalengka. seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, Arif selalu terlihat keren. dan tidak keren kalau tidak dilihat. pakai kemeja dengan kaos oblong di pakai sebelum kemeja, sangat pantas dan mengimejkan bahwa itu adalah Arif yang saya selalu kenal. dia menyalami saya, mengucapkan "minalaidzin walfaidzin" yang kata temen saya Rani itu artinya "mohon maaf lahir batin". saya terima maafnya Arif walaupun ketika kita bersalaman Arif tidak menempelkan sesuatu semacam angpau atau amplop berisi salah satu racun dunia (uang maksudnya). saya bertanya kepada Arif ngapain dia kejurusan??, tidak dengan hati untuk kali ini, karena menurut pengalaman, berkata dengan hati itu tidak kedengaran oleh orang lain keculai oleh saya sendiri sebagai Ikhsan Peryoga, sekertaris saya (malaikat pencatat amal), dan Zat yang saya yakini sebagai penguasa saya. Arif menjawab mau bimbingan, bimbingan skripsi dibilang seperti itu tepat sekali. 

oh bimbingan skripsi, ritual yang harus ada ketika menyusun skripsi. Arif taukah dikau bawasanya hebat sekali itu para pembimbing skripsi di seluruh dunia, bisa membimbing supaya para mahasiswa menjadi ada dalam keadaan lulus kuliah nantinya. Arif, jangan mengeluh ketika menunggu pembimbing skripsi yang sulit dijanji'i karena berbagai alasan kesibukan dan urusan-urusan sehingga kamu harus repot bolak-balik Majalengka-Bandung, karena sebenarnya kamulah yang merepotkan para beliau, harus membimbing kamu. bayangkan guru BP di SMA coba, mereka setengah mati membimbing murid-murid SMA nya supaya jadi murid yang baik, tidak ngeroko, tidak terlibat Gangster, tidak bolos sekolah dan yang semacam-macamnya. nah sekarang para pembimbing skripsi harus membimbing mahasiswa yang semester 9. levelnya lebih tinggi dari pada murid badung di SMA. haduh halah, bayangkan betapa merepotkan nya kamu Arif, betapa merepotkannya mahasiswa. 

arif kalau selesai bimbingan kamu akan seperti yunita, seakan-akan kamu punya kasus dan di sidang.

arif ini bukan kamu tapi teman saya, (bukan berarti kamu arif bukan teman saya hey, tapi teman saya yang lain, maksud dan tujuan saya). iah, teman saya setelah bimbingan skripsi malah marah-marah, karena menurut pengakuan beliau, skripsinya di acak-acak pembimbing, jadi aja temen saya memiripkan pembimbing skripsi yang terpelajar itu sebagai tukang ngacak-ngacak, padahal tidak. padahal si pembimbing kan bermaksud dan bertujuan membenarkan apa-apa yang kamu buat salah dan kurang. 

dan saya sadar satu hal yang hebat dari pembimbing skripsi. sehebat apapun kamu mahasiswa, mau dia mahasiswa aktifis tukang demo penentang rektorat, dia akan tunduk dan menerima jika skripsinya dikoreksi, saya yakin dia gakan demo menentang koreksi skripsi kepada pembimbing. itu juga berlaku terhadap mahasiswa kaya raya akan harta, mahasiswa kaya akan ilmu agama, mahasiswa soleh dan solehah, Mahasiswa jenius penyandang IPK sempurna, mahasiswa rupawan atau Rupawati dan mahasiswa sebagainya. semuanya seakan-akan tunduk akan apa-apa saja petuah dari sang pembimbing skripsi.

selain Uni dan Arif ada juga Iik, Rizq, dan Dadi yang akan memulai untuk mengerjakan skripsi. beliau sedang mengajukan judul-judul-judul (3 kali, karena 3 orang) mereka masing-masing-masing kedalam sebuah ritual yang disebut seminar proposal skripsi. 

Iik, Rizq, Dadi, nanti kamu akan seperti arif, akan bimbingan setelah judul kalian-kalian-kalian diterima para penguji. dan kalian pun akan pada meninggal juga,,,

haduh, kalian angkatan sejarah 2005 akan pada gugur satu persatu, atau malah lebih cepat menjadi dua perdua, atau tiga pertiga. saya menjadi kecewa kepada Ganda Yanwar selaku ketua angkatan. Dia yang sudah mengkudeta ketua angkatan sebelumnya ternyata tidak becus untuk mengurus angkatan. masa hey, angkatan kita menjadi terpecah-pecah?? mana kebersamaan?? kita jadi jarang pada ketemu, kita jadi anggota angkatan jadi pada egois. ada yang sudah wisuda, ada yang nunggu wisuda desember dan sedang liburan di padang, ada yang liburan ke tasik layaknya eris, ada yang udah siap sidang seperti Uni, ada yang sedang bimbingan mirip-mirip Arif, ada yang sedang siap-siap seminar proposal serupa Iik. mereka jadi sibuk dengan urusannya masing-masing. hoah... 

lalu dimanakah Ikhsan peryoga??
itu saya yang bertanya, sambil menngetik agar tulisan ini jadi selesai.

lalu saya bawa gitar dan saya pun menyanyikan lagu nya si ayah

lalu kapan saya akan diwisuda?
Si Daus pun sudah lebih dulu,
Rasa cemas merasa masih begini,
Mas Jadul Pun sudah di D.O.

orang tua di desa menunggu
tambah calon istri masih harus pilih-pilih
orang desa sudah lama menunggu
aku pulang membangun TARKA

Tolonglah diriku, koboy kampus lama lulus
diriku cemas, gelisah, sepanjang hari-hariku 

bagaimana begini saja, luluskan apa adanya
bagaimana begitu saja, nanti kaya, bapa di bagi

tapi kalem, ini pembelaan, bisa disamakan dengan mengobati hati

belum lulus juga banyak kerjaan, banyak garapan yang menawari di garap saya, apalagi nanti kalau sudah lulus??... aing gituloh!!!,wahahahahaha...
 (gaya bahasa si Moni, tertawa semena-mena)

[tapi kerjaan, proyekan, garapan itu terhalang oleh kamu yang belum juga kunjung lulus,,, ini masalahnya (hati kecil saya, di iringi suara halilintar)]

ini tulisan bisa dianggap selesai,
menerima sumbangan baik dana atau dukungan dari pembaca
juga ralat, keritikan atau kelitikan

oh iah, tulisan ini di ciptai saat Jumat, 16 Oktober 2009 kalender Syamsiah.
Description: judulnya apa yah??? susah!! Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: judulnya apa yah??? susah!!

Pacarnya Rani (nama samaran)


oleh: Ikhsan Peryoga

Ketika saya menulis note ini, saya ingat kejadian kemaren saat ada acara yang ingin disebut sebagai acara buka bersama-sama. Memang mirip sih acara ini dengan acara berbuka bersama-sama, oh ternyata memang iah, acara itu memang acara berbuka bersama-sama.

Ketika saya tulis ini, saya ingat kemarin sore saya bersama teman saya. benamalah dia Carolien Amonica Phaloitis, panggil dia Monii untuk meledeknya. Kita berdua sedang di sebuah lantai 3 masjid. Menunggu matahari nga ada, biar bisa makan bersama-sama, tidak hanya dengan si monii itu makan bersama-samanya, tetapi dengan teman-teman yang lainya yang saya tidak bisa sebutkan ciri-cirinya semuanya.

Oh iah sebelumnya saya mau menegaskan bahwa saya itu hebat. Percaya tidak percaya, saya ini jago sekali untuk berfikir keritis layaknya Soe-Hok-Gie atau Arif Rahman Hakim, atau mungkin tidak sejago itu juga sih. Entahlah, tapi saya malah jadi bingung ketika saya menyamakan jago saya dengan mereka. Oh iah, saya puny aide, bagaimana kalau tidak di samakan saja, maka saya pun jadi tidak bingung ketika menulis note ini. Dan intinya saya tetap jago.

Saya mahasiswa jurusan pendidikan sejarah yang ditungtut mempunyai pijakan pemikiran mirip isme atau semacam aliran filsafat demi bisa mempertahankan hidup dari kerasnya dunia. Saya di tungtut supaya apapun yang saya ucapkan adalah hasil dari analisis mendalam, melalui proses yang sangat rumit seperti membandingkan, menguraikan, membangun fakta, pengalaman, landasan pendangan dan pengetahuan saya menjadi bentuk baru yang orisinil dari hasil pemikiran saya. Saya dihukum untuk diharuskan selalu skeptic atas informasi, fakta, data yang orang lontarkan. Saya harus mengindari jajtifikasi orang yang tak berdasar, begitu juga saya menghindari saya yang men-jajtifikasi, karena jajtifikasi itu membunuh untuk beberapa. Saya harus pintar bisa membedakan pemikiran orang yang mempunyai kepentingan. Kepentingan atas latarbelakang si orang tersebut berfikir baik organisasi pembentuk orang tersebut, latarbelakang ekonomi, pandangan si orang tersebut, sifat politiknya dan lain sebagai-bagai nyah-nyah. Makanya sebagian orang, atau tepatnya beberapa orang (sebut saja hanya 2-3 orang, kalau mau jujur) menyebut saya hebat dalam hal pemikiran. 

Saya ini hebat hey, hebat menggambar, mendesign, sudahlah jangan di bahas yang inimah. Semua orang yang tahu saya, tahu saya menggambar dari sejak Nete. Beban ini saya terima dari ayah saya Heri Peryogi yang Almarhum. Beliau juga dikenal keluarga sebagai orang yang gemar dan pandai menggambar. Mungkin kemampuan itu beliau wariskan kepada saya, tapi oh ternyata tidak, ternyata adik saya pun Bagja Nur Fajrin gemar dan pandai menggambar. Kalian perlu camkan ini, bawasanya pujian yang Tuhan titipkan untuk saya (lalu dikembalikan lagi ke Tuhan dengan mengucapkan “alhamdulilah”) sebagian besar adalah dari bidang ini, yah tebul bidang gambar meng-gambar dan yang berhubungan dengan utak-atik visual.

Makanya serta minumnyah saya ini merasa hebat, dan sedikit (baca selalu) sombong. Saya berfikiran bahwa orang sombong itu keren dan saya layak untuk itu, kan saya hebat. Apapun celah yang membuat saya berada di atas kalian, gunakan itu untuk memblow-up bahwasanya memang begitu itulah sombong, dan itulah saya). 

Efek dari hal tersebut adalah gengsi. Gengsi saya tinggi dan itu keren pula menurut saya. Saya hanya mau tukar pikiran dengan orang-orang yang menurut saya pemikirannya lebih keren dengan saya. Dengan begitu tentu saja saya tidak mau membagi pikiran keren saya dengan keroco-keroco seperti kelian. Saya sedikit sekali memuji orang. Saya sedikit sekali mempunyai orang yang saya kagumi. 

Dalam hal berdebat, saya selalu menang (menurut saya). tak pernah saya gentar dan selalu ada kalimat yang masuk akal bagi mereka, untuk mereka oleh saya yang membuat mereka berfikir ulang. Dalam hal berdebat, saya adalah Iron head (kenal nga Iron head?? Kalau yang ga kenal jangan jadi fans saya). Dalam hal bicara saya adalah si raja ngelest tapi berdasar logika universal. Apapun yang dilontarkan orang untuk menyerang saya, sehebat apaun orang itu pasti bisa saya bantah dan serang balik. Tapi kehebatan itu mampus, Sampai hari kemarin ketika buka besama-sama itu.

Kembali ke seting acara buka bersama-sama kemarin…
Jam 5, sekonyong-konyong ada 2 anak kecil (yang cewe umur 5 tahun sepertinya kalau itu semestinya, dan sekitar kelas 2 SD yang laki). mereka bawa setumpuk nasi bungkus saya tebak begitu, mudah-mudahan tebakan saya tidak salah. Mereka melihat si monii dan tertawa-tawa. Si monii pun dengan mungkin reflek memanggil berdua dari mereka yang hanya berdua. “hey!! (sebenarnya bukan hey, tapi menyebut nama mereka berdua). Oh ternyata monii kenal mereka berdua. “Siapa mereka??” itu saya yang bicara tidak lewat hati ke monii tapi lewat suara pita suara saya. “Itu adik-adiknya si ####” monii menjawab. [####], sebut saja beliau “Rani” untuk tujuan saya samarkan beliau dengan alasan-alasan yang akan sangat panjang bila saya jelaskan di note ini.

Adiknya-adiknya Rani (Rani: nama samara “####”) itu kembali melewat dan sekarang malah mendekati monii dan otomatis juga mendekati tubuh saya yang sedang berada di dekat monii. Saya pun beranjak untuk sekedar menghindar dengan berpura-pura akan mendistribusikan nasi bungkus dari lantai bawah masjid ke lantai 3 masjid. Tetapi yang terjadi apa coba??? 

Si anak kecil cewe yang berumur hanya mungkin 5 tahun itu mengikuti saya. Saya berjalan terus, dia menyusul ingin saya berjalan disusul dia. Oh iah, diapun menyusul. saya lihat anak kecil itu, dia tersenyum melihat sayah. Kalau tadi “oh iah”, sekarang “oh tidak”,, dia tiba-tiba berucap “pacarnya Rani!!! (nama samaran)”. Astaga, saya kaget tapi ditahan karena malu. Saya terus berjalan pura-pura tidak dengar beliau yang berucap. Tetapi beliau terus saja mengikuti saya dan terus memandang saya, dan terus tersenyum, dan terus menyebut-nyebut “pacarnya Rani!!!”, “pacarnya Rani!!!”, “pacarnya Rani!!!”… mampus, saya terus meningkatkan kemampuan otot kaki saya, jadi aja jalannya jadi jalan cepat. Dan lebih mampus lagi di depan saya jol-ojol (tiba-tiba) ada “####” yang saya samarkan jadi Rani dalam note ini. “Pacarnya Rani!!!” si anak terus saja begitu berucap seakan-akan beliau adalah mesin perekam. Rani pun menoleh sambil membawa nasi bungkus yang sedang di distribusikan. “Siapa” Rani berkata sambil melihat saya dan adiknya. Si adiknya terus saja bersua “pacarnya Rani”, gawat sekarang dia menyebut itu sambil menunjuk saya,.. jeah, si adik senyum ke saya dan sial senyumnya mirip kakanya, saya di situ seperti mau kena serangan jantung. 
Saya yang jagoan, jago ngeles, jago pemikiran, keritis, skeptic, sombong, dan gengsian, lalu “si iron head”, kemudian jago sekali ngebalikan omongan orang dan semua yang hebat-hebat mengenai saya itu semuanya jadi bohong. saya tidak bisa melawan anak kecil umur 5 tahun itu, bahkan dengan satu ucapan kata pun… berengsek!!! (maaf kasar ngomongnya), kalah telak sekali pukul…

Ketika Rani (nama samaran) itu melihat kami berdua. Saya langsung kabur dan tidak kembali ke acara buka bersama-sama itu. Jadi makan baso di as Bo’ol daerah negla.
Dan itulah yang saya ingin tulis. Saya sekarang berhadap-hadapan dengan monitor PC. ih, jadi mempunyai keinginan, ingin nyanyi. Baiklah saya akan mengambil gitar. Gitar sudah di peluk saya, saya menulis lagi. Sekarangmah asli saya nyanyi.

Judul lagunya:
MENAMEHANA (diatas segalanya)
Yang buat si Ayah Surayah…
dan saya ingin, dan akan, lalu harus nyanyi lagu ini sepenuh hati.. 

ini liriknya:

Duhay apakah namanya, bila aku merasa, 
dilanda bermilyar rasa, saling meronta
Serasa hujan airin, kemarau yang lama, 
maka tumbuh hidup baru di lembah yang sunyi

Sehebat apapun, di landa yang ini… mampuslah diriku, musnahlah benaku…

Wahai siapakah dirimu?? Manjinakan aku…
Bisa menyebabkan semua, musyrik karna mu
Cara apakah dirimu, pacu jantungku
Menempatkan aku pada rindu melulu

Siapakah engkau ini, mengepung diriku
Ada pada sgala arah, ku panggil namamu
Sebab apakah dirimu, indah begini
Menempatkan aku pada rindu melulu

Siapapun aku, dirundung yang ini, musnahlah semua, mampuslah benaku…

Bagaimanapun engkau kepadaku, tak perlu kau tau, urusan diriku…
Bagaimanapun aku kepadamu, tak perlu ku tau, urusan dirimu..
Bagaimanapun aku kepada mu, tak perlu ku tau, uruslah dirinya…
Bagaimanapun engkau kepadanya, tak perlu ku tau, uruslah dirinya..
Bagaimanapun ia kepadamu, tak perlu ku tau, urusan dirimu…

Kini ku pandang kamu sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tidak dihubungkan dengan keharusan memiliki…
[Selesai nyanyi..]

Kasihan ih saya, dianya sama dianya dia… tapi takapalah… ini tetap indah ko..
[tentang kehebatan2 saya yang saya jelaskan di atas memang agak berbau fiksi, mohon di kasih maaf, nanti saya terima maaf kalian. Eh tetapi jangan khawatir, mengenai kejadian di buka bersama-sama itu, ada anak kecil yang ngomong begitu kepada saya, InsyaAlloh sepenuhnya nyata, dan awas kamu monii!!! Engkaulah penyebab semua ini terjadi]
Description: Pacarnya Rani (nama samaran) Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: Pacarnya Rani (nama samaran)