Jumat, 26 Februari 2010

ini untuk Tria dan untuk yang mau baca


sekonyong-konyong atau "ujug-ujug" dalam basa ada yang nge PM ke saya barusan:


Tria

a isann...

udh lulus blm?
09:57Isan

jir keren itu kata2 pertamanya

pasti di ajarin si kaka kamu
09:57Tria

beliau adalah Tria, adiknya temannya baik saya. pertanyaan nya bagus, mengharapkan saya tersinggung dan menjadi panas padahal saya ada di dalam ruangan yang sejuk saat ini ditulis. dan saya yakin yang menulis ini bukan Tria, karena saya tau tria orangnya baik, luchu, imut, solehah, tidak seperti kakanya yang sialnya jadi teman saya (herey hey). 

tria yang masih SMA, bolehlah kamu mendengar cerita saya, harus hey, tapi terserah kamu ketang, itu hak pribadi.

saya mencoba menghubungi beberapa kawan lama saya, ini dia salah-satu percakapan nya:
sebut aja dia handoko.


saya: halo, han, dimana sekarang???

handoko: di lembur (kampung halaman) uy

yang bernama Ikhsan: gimana udah lulus kuliah teh? (teh, disini bukan campuran untuk minuman hey)

handoko: nya dong, udah lulus atuh,, sarjana ayeunamah.. maneh kumaha??

yang punya nama belakang Peryoga: belum euy, masih lama... wah udah lulus, kana naon atuh ayeuna?? jir, udah jadi staf ahli akuntan sejati atuh di bank,,, minta link na ateuh, pasti banyak kenalan.

hebat uy udah bisa menghidupi diri sendiri..

handoko: saya dari saprak (sejak) lulus nyari2 kerja, tapi,,, ya gini weh, masih nyari.. ini juga malu oleh ortu, belum juga kerja kerja...



terus yang ini, Tria coba baca

ini temen saya beda jurusan, beliau sudah lulus, sudah di wisuda,.. 
lalu saya buka sms nya tanpa saya harus membuka batre handponya.


"cuy, ada proyekan nga?? biasanya nte mah banyak link"


aneh minta semacam kerjaan kepada saya yang sedang khusu menjadlankan ibadah kuliah


lalu ini saya yang nge nelpon teman saya yang sudah sidang dan nunggu di benerin toganya oleh pak rektor


orang yang suka di panggil isan: "**n, pas kamu di sana ngapain aja???" 

sebuah temen saya: gitu aja bantu-bantu ibu, jadi kaya ibu-ibu rumah tangga uy


ini jadi ketakutan tersendiri jika saya lulus nanti,,,, bukan nya saya meniru malinkundang menjadi anak durhaka hey dengan tidak ingin membantu ibu, tapi yang ibu harapkan dari saya bukan hanya sekedar membantu beliau sebagai pemuda rumahtangga kelak jika saya lulus nanti. 

atau ini yang terakhir, belau teman saya yang dulu sangat mebanggakan dirinya sendiri walau sebenarnya orangnya tidak sombong. keren hey beliau, beliau lulus jadi S.pd di umur 21, kelahiran 1988 angkatan 2005 dengan nilai Ipk yang tinggi, gelombang pertama di angkatan nya. luarbiasa keren hey.

dan ini perkatannya kemaren, ingin beliau anggap ini sebagai nasehat seorang junior yang sudah S.Pd kepada seniornya yang masih mahasiswa yaitu saya.


"dunia luar itu kejam, bahkan sangat, beruntunglah kamu masih berpegangan ke dunia kampus... dan saya mencabut lagi perkataan bahwa "lulus cepat/muda itu keren" 


lihat mereka tria, memang mereka tertawa bahagia hatinya, bibirnya, wajahnya ketika sudah selesai sidang. malahan ada yang syukuran, ada yang nraktir temen2nya, pesta pora, potong kue, tuker cincin, bikin sangu kuning, menyantuni anak yarim, jadi donatur panti asuhan, juga panti jompo, jadi donatur badan amil zakat, dll ketika melampiaskan kebahagiaan mereka ketika sesudah sidang. 

tapi beberapa ada yang tidak mengetahui bahwasanya mereka melewatkan beberapa persiapan untuk mereka siap menghadapi cara kerja masyarakat. semacam ilmu yang bisa saja ada di matakuliah, bisa saja ada di organisasi, bisa saja ada di kosan, bisa saja ada di kantin kampus, bisa saja ada di perpustakaan kampus atau malah di tukang londry dekat kampus. padahal materi untuk mempersiapkan persiapan itu banyak tercecer di dunia kampus, hanya saja orang lebih banyak terfokus kepada sesuatu yang sifatnya tidak tercecer. makanya ketika mereka lulus mereka tidak siap dengan cara kerja masyarakat tersebut.


saya sekarang sebenarnya menunggu yang semacam itu dari kaka kamu. "kasihan yah kaka kamu, tidak merasakan asiknya kuliah ngulang, sendirian ga ada teman sekelas"

ini rahasia tria: sebenarnya note semangat buat kaka kamu supaya dia nga seperti temen-temen saya yang di atas. jangan bilang2 kaka kamu tria, saya males di bilang keren oleh beliau...
Description: ini untuk Tria dan untuk yang mau baca Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: ini untuk Tria dan untuk yang mau baca

Sakadang saya membuat KTP bagian 2


Oleh: Ikhsan Peryoga

Setelah dari kelurahan dan sekedar bersilaturahmi dengan si Ibu-ibu petugas, lalu saya di antar oleh motor adik saya yang sebenarnya saya kendarai sendiri ke kecamatan.

“Kamu tunggu di sini yah sama helm, saya mau ke dalam dulu, jangan kemana-mana OK!” itu saya yang bicara dengan motor adik saya. Motor adik saya diam saja, tapi biarkanlah, mungkin itu keinginannya untuk terlihat cool. 

Banyak manusia di sana, manusia ras proto melayu, tidak ada Ras Arya kebetulan, mereka sudah jarang terlihat sejak agresi militer belanda 2. oh lihat itu marisol, banyak dari mereka membawa map yang banyak pada ingin membuat KTP. Jangan ditanya ngantri atau tidak, sudah pasti bergerombol merong-rong kasir pelayanan KTP. Tidak peduli baru datang, yang penting berani untuk seseledek (bahasa polandia) dan tidak malu untuk selepat-selepet (bahasa Moldova) maka itulah yang dilayani pertama. 

Saya pun datang, bersama pakaian, sandal jepit, map kuning, dan tas. Tapi semua itu tak penting, yang lebih penting yang saya bawa ke kantor kecamatan saat itu adalah idealisme, hasil didikan saya kuliah sampai saya belum lulus-lulus hingga kini. Saya datang dengan Idealisme mahasiswa, dimana saya di harusi menjadi orang paling sensi melihat ketidak beresan dalam tatanan masyarakat. 

Saya pun mendekat, mendekatini’I gerombolan tersebut. Saya berdiri dibelakang, dan ada empat orang dari manusia laki-laki bapak-bapak yang saya tidak sempat kenalan dengan mereka berdiri didepan saya dengan posisi tidak karuan. “Ehem” saya mengeluarkan bunyi seperti itu dibantu tenggorokan saya. Hal ini mengisyaratkan ketidaknyamanan saya akan keadaan di depan saya. Ke empat orang itu tidak menghiraui dan terus saja focus ke pada si kasir yang tentu saja tidak cantik. Mereka sangat focus dalam upaya paheula-heula (padulu-dulu) menyodorkan berkas KTP mereka.

“Astaga” , saya kata dalam benak… itu si berkas dari orang-orang tersebut banyak sangat, lebih dari 4 map setiap orangnya. Saya jadi mendapati kesimpulan bahwa beliau-beliau adalah RT atau RW yang mengkolektifkan pembuatan KTP warganya. “Astaga, itu Pemimpn warga tidak ngerti ngantri” saya berkata seperti itu serius, tapi mereka diam saja. Oh ternyata saya berkata dalam hati, jadi aja tidak terdengar mereka-mereka.

Saya diam aja terus dibelakang mereka, dan tiba-tiba sekonyong konyong ada ibu-ibu pake tudung yang datang. Datang dengan percaya diri dan langsung merebut posisi saya yang menjadikan si ibu-ibu itu ada di depan saya. Jadilah 5 orang yang terlihat fokus kepada kasir dengan posisi tidak mengantri.

Kesel dengan ini saya pun bereaksi, sebagai mahasiswa yang tidak hanya menerima teory di kelas. Ini asli bukn berkata dalam hati “bapa, ibu, ngantri dong!!” menggunakan bahasa sunda. Mereka semua-mua menoleh kepada saya. Ada yang malu dan memperbaiki posisi berdirinya, ada juga yang tidak. Ada juga yang malah berkata kepada saya“jang, saya sudah datang dari tadi!!”, “iah, makanya ngantri, jadi ketauan siapa yang datang belakangan dan jadi nga nyerobot-nyerobot” itu kata saya kepada si bapa-bapa yang tadi sedikit nyolot. 

Lalu si ibu-ibu kasir dari dalam pun berkata, “iah ngantri gera pa, biar tidak raribut”. Dengan ini, para manusia itupun menjadi mengantri dan keadaan menjadi sedikit tenang…

Semenjak itu, siapapun yang datang menjadi berdiri di paling belakang. Dan taukah hey para pembaca, ngantri itu indah dan keren hey. Dan keberanian untuk berkata benar sesuai idealisme mahasiswa itu berjalan dengan sukes. Oh senangnya jadi mahasiswa dan kasihan itu temen2 saya yang sudah lulus dan tidak menjadi mahasiswa lagi..

Dan setelah menunggu, akhirnya tiba giliran si sayah yang berhadapan dengan si kasir. Map kuning saya serahkan. “a, foto na mana??” itu kata si kasir. weanjis , saya lupa itu foto belum di guntinggi, masih dalam bentuk lembaran A4 setelah tadi di print, belum juga di tempel di formulir.. hadeuh… lalu saya pun berkata mau pinjam gunting ke si ibu kesir dengan sedikit rariweuh.

Dan dengan nada puas tapi tidak menyenangkan, terdengarlah celetukan dari belakang “tadi aja nyuruh ngantri… pas gilirannya belepotan, belum siap” (begitu kira-kira kalau di bahasa indonesiakan mah). Oh ternyata si Ibu pake tudung yang tadi saya suruh ngantri. 

MALU!!!!! 
sial dong!!! 

Saya langsung keluar dari antrian membawa map kuning beserta berkas lalu ke pinggir sambil mengguntingi foto saya yang ganteng, tetapi kali ini foto itu menjadi berengsek karena penyebab saya menjadi malu kaya gini.

Setelah beres saya kembalikan itu gunting dan saya pun segera pergi dari kantor kecamatan tersebut. Entah kenapa, mungkin malu, mungkin terpukul, atau apa, tapi yang jelas saya langsung bawa helm dan naik motor dan “ngeng..” (ini ekspresi menjalankan motor). 

Dengan setengah sadarkan diri saya kendarai motor dan jadi berada di suatu bangunan, mirip kantor. Saya masuk ke kantor tersebut. Ada 4 orang didalamnya, dua ibu-ibu, dua bapak-bapak. Salahsatu ibu-ibu langsung melihat saya tajam, kusam, muram, penuh nafsu dan dendam, mukanya seakan terbuat dari cairan kimia sejenis cuka, bawannya masam melihat muka saya. Saya tetap cool untuk masuk kantor itu. 

Ketika sampai di sebuah meja, saya jadi berdiri di hadapan 4 orang tersebut. 4 orang tersebut melihat saya tajam manjadikan saya sebagai focus penglihatan mereka. Saya buka map kuning dengan tiada berkata apapun kepada mereka. saya ambil sebuah lem kertas yang ada di atas meja mereka, membuka tutupnya dengan tidak mempedulikan ke 4 orang dihadapan saya, seakan-akan saya autis dan punya dunia sendiri. Saya oleskan lem kepada foto yang sudah di gunting di kantor kecamatan tadi lalu di tempelkanlah beliau (foto tsb) ke dalam formulir. 

Setelah selesai, saya bereskan formulir dengan cepat dan segera meninggalkan tempat tersebut. Ketika saya berjalan keluar dari sebuah kantor tersebut, terlihat muka-muka bengong 4 orang yang dari tadi memperhatikan saya. Terutama si ibu-ibu yang satu itu, seakan mukanya tidak kobe dengan mata buncelik melihat saya. 

saya pun kembali ke kecamatan dan mengantri dari awal, lalu menyerahkan berkas formulir kepada kasir. Si kasir menyuruh saya membayar 8000 rupiah, dan menyuruh saya kembali lagi ke sini jam 1 siang buat menjemput KTP yang sudah jadi. Lancang sekali itu kasir menyuruh-nyuruh saya seakan saya pembantunya, tapi apa boleh buat memang saya membutuhkan KTP itu untuk kepentingan egoistis saya. Seperti jaminan hutang jika makan ga punya uang, atau buat tanda yang akan diperlihatkan ke satpol PP jika ada razia bencong.

Oh KTP, akhirnya kamu lahir sekitar jam stengah 2 pada tanggal 9 November 2009 kalender Syamsiah. Tidak perlu menunggu 9 bulan 10 hari untuk melihat kamu lahir. Hanya 1 hari saja, tapi saya yakin, seyakin-yakinnya kamu tidak premature wahay KTP.


Mengenai bangunan dimana tempat saya mengelem foto adalah kantor kelurahan, saya langsung kepikiran pergi kesana karena tadi masih ingat bahwa di meja kantor kelurahan ada lem. Mengenai si ibu-ibu yang berwajah heran dan seakan penuh dendam adalah ibu-ibu yang beberapa jam sebelumnya saya kerjain mau di kasih uang administrasi 300 ribu oleh saya (baca note “sakadang saya bikin KTP bagian 1”). 

Oh indah sekali hidup sampai saya tidak malu datang lagi ke kantor kelurahan itu…


Masih dialami saya pada 9 November 2009 kalender Syamsiah.
Description: Sakadang saya membuat KTP bagian 2 Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: Sakadang saya membuat KTP bagian 2

sakadang saya membuat KTP bagian 1


Oleh: Ikhsan Peryoga

Hari itu Saya yang bersama map kuning, bertepatan dengan saya yang bersama motor adik yang namanya tidak tahu siapa, juga bersamaaan dengan kala saya yang bersama baju dan celana yang saya kenakan, bersama helm dan Tas dan sandal jepit berwarna biru, dan kunci motor. Mereka semua saya ajak untuk menemani saya buat KTP. 

Saya berada di kantor kelurahan, kelurahan tempat saya tinggal. Saya pun masuk kantor, bagaikan saya adalah pegawai kantor tersebut dan harus masuk kantor, harus mengabsen, dan dikasih gaji di awal bulan, padahalmah bukan itu masud saya. Saya masuk kantor setelah sebelumnya ada di luar kantor. Saya harus masuk karena ingin formulir pembuatan KTP ini menjadi di tandatangani oleh Lurah. Di dalam saya lihat meja, lihat para petugas kelurahan, lihat kursi, lihat lem yang sedang berada di atas meja, lihat papan tulis, dan lihat benda-benda lainnya.

Inilah percakapan ketika saya di dalam kantor, saya gunakan tri-lingual (basa sunda // bahasa Indonesia // English) untuk mempermudah pembaca dalam hal pemahaman akan tulisan ini:

*catatan: cukup baca yang basa sundanya saja

Si ibu-ibu petugas kelurahan: Bade naon cep?? // ada keperluan apa tuan?? // whats up brow??
Saya: bade ka pa lurah // Mana si Lurah!! // brow, are you look the leader, I finding the leader of the office
Si ibu-ibu petugas kelurahan: aya kaperyogian naon cep? // hendak maksud apa tuan mencari majikan saya tuan?? // yo-yo-yeah… hip-hop men,, what’s haven brow??
Saya: bade ngadamel KTP // ga mau tau, pokonya gw mau dibikinin KTP // I wanna make the ID card, brow..
Si ibu-ibu petugas kelurahan: berkas sareng syarat-syarat na di kempelkeun weh cep // ampun tuan, saya akan segera memberikan cap dan tandatangan majikan saya // hey-hey-hey,, how about my hip-hop skill?? (ngaco!!)

Lalu saya pun menyerahkan map kuning yang menemani saya pergi ke tempat ini. menunggu sebentar, tidak sampai saya pegel karena saya menunggunyah berdiri, si ibu-ibu petugas kelurahan sudah kembali

Si ibu-ibu petugas kelurahan: cap ieu entos rapih // ini tuan, sudah selesai // maaf saya tidak bisa menerjemahkan nya

Saya pun kemudian memasukan map kuning itu ke dalam tas setelah meyakinkan bahwa si formulir sudah di cap dan ditandatangani. 

Sebelum saya beranjak pergi saya lihat wajah si ibu-ibu petugas kelurahan yang terus menatap saya rada cemberut. Saya hendak mengerti apa yang dirautkan oleh mukanya, makanya/minumnya saya lalu bertanya ini kepada beliau:

Saya: ibu ntos ieu teh?? Uang administrasina kumaha?? Sabarahaeun bu??//heh!! Apa loe liat-liat??// zzz…. Zzz… zzzz… 

Si ibu-ibu petugas kelurahan: saiklasna weh cep // tidak tuan, bukan maksud saya // …..

Mendengar kata seiklasnya hati saya jadi tersentuh. Si ibu-ibu yang bekerja sudah lama dengan gaji seadanya. Beiau sekarang membantu saya dengan susahnya mencap dan menyuruh atasannya menandatangani formulir saya. Oh perjuangan yang peru kita teladani dari si ibu-ibu itu. Saya tau ibu bekerja keras selama ini, saya tau juga ibu harus menghidupi anak ibu, menghidupi kompor ibu, menghidupi kulkas ibu (kalau punya) dan menghidupi lain-lain nyah-nyah.yang perlu hidupi agar ibu bisa tetep hidup. Makanya saya langsung berkata kepada si ibu-ibu,
“300 rebu gimana bu?? Apa kurang??”.
Si ibu-ibu petugas langsung berona wajah ceria, sumringah, bahagia, dan rona-rona lain yang semacam dengan yang saya sebutkan barusan. Dalam hati saya, oh alangkah senangnya membuat si ibu-ibu ini bahagia, coba lihat itu wajahnya seakan kerupuk yang di goreng, merekah beraroma kesenangan. 

Lalu saya berkata kepada beliau: “tapi kalau 300ribu mah saya ga iklash bu, kan kata ibu harus iklash” (itu saya beneran bilang seperti itu ke si ibu-ibu). Gimana yah, saya sebenarnya tidak bawa uang (padahal mah bawa, di dompet ada 245.300 uang Indonesia), kalau begini mah , 5000 juga jadi ga iklash bu” saya lalu membalikan badan dan berjalan keluar kantor tersebut. Sebelumnya saya lihat wajah si ibu-ibu yang tadi saya buat bahagia sudah tidak ada lagi.

Saya sebenarnya kesel dari sekitar 5 tahun yang lalu ketika saya buat KTP pertama saya, masih ingat jelas bahwasanya dulu juga yang menjadi petugasnya adalah si ibu-ibu itu. Dahulu, sekitar 5 tahun yang lalu, ketika saya minta cap dan TTD pak lurah si ibu-ibu itu menagih saya sejumlah uang. saya bertanya, ”ibu nagih uang buat apa?? Kan hanya di cap dan di kasih tanda tangan doang???”. Lalu si ibu-ibu berkata bahwa uang tu untuk administrasi. 

Saya berpikir hingga tidak habis-habis, jadinya saya tidak habis pikir. Bahwasanya di bangun atau diadakan nya birokrasi yang dalam kasus saya adalah kelurahan adalah untuk pelayanan masyarakat. Kelurahan harusnya melayani masyarakatnya agar semua-mua urusan itu menjadi dipermudah karena di Bantu kelurahan. (ini saya dapat di perkuliahan matakuliah sejarah Politik). Jangan sampai birokrasi itu yang tujuannya mempermudah/melayani menjadi malah memperibet urusan-urusan masyarakat.

Nah pada saat kemaren, si ibu menawarkan “seiklasnya” apa pun yang diberikan oleh saya, saya pikir si ibu masih mengharapkan sesuatu walaupun dari keiklasan si pemberinya. Makanya-minumnya saya kerjain aja, ditambah mungkin dendam terasah selama 5 tahun yang saya bekam. 

Saya merasa saya tidak salah kali ini, karena kata si ibu pun seiklasnya, kalau saya tidak iklash itu hak saya, dan ketika saya menawarkan 300 ribu, itu pun hak saya, bukan bermaksud mempermainkan si ibu-ibu hey,,, hanya sekedar mengetes, kalau saya tawarkan sejumlah uang yang lebih dari lumayan, apakah si ibu-ibu akan menerimanya atau tidak itu pemberian. Karena saya yakin itu tidak ada dalam jobdest tugas si ibu-ibu sebagai petugas kelurahan untuk menerima apapun dari orang yang harusnya dilayani tersebut. 


Tapi aroma sial dong berhembus terbalik pada akhirnya… ini bersambung ke pembuatan KTP di kecamatan.
tulisan ini jadi fiksi ah, takut di kecam atow di tungtut

Dialami pada: 9 November 2009 kalender Syamsiah.
Description: sakadang saya membuat KTP bagian 1 Rating: 3.5 Reviewer: ikhsan peryoga ItemReviewed: sakadang saya membuat KTP bagian 1